Jumat, 28 November 2014

Prison of Time : Prologue (Cerpen Original)

Chapter 1
Memory



            Namaku Azazel Hurricane, umur 18 tahun. Aku memiliki satu saudara perempuan bernama Iriya Hurricane, dia hanya berbeda 3 tahun dariku, rambutnya pirang, dan warna matanya biru muda sama seperti Ibuku, akan tetapi karena dia cukup pintar dia mengikuti akselerasi dan sekarang dia satu universitas denganku.
            Aku kuliah di universitas yang berada di tempat kelahiranku. Sebenarnya orang tuaku sangat keberatan dengan keputusanku, karena mereka menginginkanku masuk ke universitas yang lebih baik dan bagus kualitasnya dari tempat kuliah ku saat ini. Aku juga tidak memiliki alasan yang kuat mengapa aku memilih pindah ke tempat ini.
            Hanya saja, sekarang ini alasan aku pindah ke tempat ini karena seseorang. Ya seseorang yang aku lupakan. Seseorang yang selalu mengganggu mimpiku. Entah siapa dia, akan tetapi semakin lama aku tinggal di sini, semakin aku merasa melupakan alasanku tersebut.
            Aku pindah satu bulan sebelum pembukaan penerimaan mahasiswa baru, dan sekarang aku masih memiliki waktu liburan selama 2 minggu lagi sebelum masuk universitas. Aku menggunakan waktuku itu untuk berbelanja elektronik untuk melengkapi atribut rumahku saat ini. Sebenarnya di rumahku ini semua fasilitas sudah tersedia, dan masih terawat dengan baik. Akan tetapi aku merasa banyak sekali kekurangan.
            Hari ini, aku dan adikku pergi ke sebuah mall yang cukup besar di kota ini. Meski cukup besar, tapi sangat sulit untuk membeli perlengkapan yang aku butuhkan. Adikku juga sering mengeluh kepadaku, karena dia menyuruh untuk membeli via online saja agar tidak perlu pergi ke tempat yang membosankan ini.
            Ya memang adikku cukup manis dan cantik, dia sangat pandai dan banyak yang menyukainya. Akan tetapi dia memiliki sifat egois dan tidak peduli kepada orang lain. Bahkan dia tidak peduli kepada sekitarnya. Akan tetapi dia dapat menghafal nama dan wajah dengan baik, meski sudah 10 tahun lamanya. Dan sebenarnya dia peduli, akan tetapi dia selalu berakting tidak peduli kepada sekitar.
            Tidak seperti adikku, jika adikku tidak peduli terhadap orang lain, lainhalnya dengan diriku. Aku cukup peduli kepada orang lain, akan tetapi hanya jika orang lain itu peduli terhadap diriku. Tapi akhir-akhir ini sepertinya penyakit egois dan tidak kepedulian dari adikku menular kepadaku. Entahlah, aku hanya hidup berdasarkan kemauanku saja.
            Dalam perjalanan menuju mall tersebut, entah aku merasa seperti ada yang mengganjal hatiku. Aku merasa sangat gelisah, akan tetapi perasaan ini sangat aneh. Apa akan terjadi sesuatu? Atau akan terjadi bencana besar?
            Tidak beselang lama kami sampai di sebuah mall, ternyata mall ini cukup besar dan fasilitasnya juga sangat memadai. Meski begitu, benar saja kali ini aku tidak mendapatkan hal yang aku cari.
            “Bagaimana kita istirahat dulu Iriya?” tanyaku kepada adikku.
            “Haa, aku malah inginnya langsung pulang saja,” jawabnya dengan santai.
            Tiba-tiba aku melihat seperti ada seorang gadis yang berada dimimpiku.
            Saat aku melihatnya aku benar-benar terkejut, dan tidak dapat memalingkan wajahku. Aku tidak dapat melihat wajahnya, hanya aku dapat mengenali rambutnya saja.
            Wanita itu berambut pirang, dan kulitnya benar-benar putih. Akan tetapi tiba-tiba kepalaku menjadi sangat sakit.
            “Kkhh- ada apa ini?” celotehku sendirinya.
            Aku menoleh ke arah adikku.
            ‘Perasaanku atau aku merasa dunia ini seperti terhenti?’ batinku.
            Aku melihat adikku hanya berdiri saja, bahkan tidak melakukan gerakan apapun. Saat aku menoleh ke arah sekitar semua orang juga terhenti.
            Dari kejauhan aku mendengar suara sama-samar, “Apa kau mengingat diriku?” tanya suara samar-samar tersebut.
            Tiba-tiba aku merasa seperti di dunia mimpi. Dimana seluruh warna dimensi hanyalah hitam putih.
            ‘Di mana aku saat ini?’ batinku sambil meremat kepalaku karena menahan sakit.
            Aku melihat cahaya putih yang sangat terang menyilaukan mataku. Dan muncul sosok gadis itu, akan tetapi karena cahaya itu aku tidak dapat melihat jelas gadis itu.
            “Siapa kau?” tanyaku.
            “Siapa aku? Aku adalah orang dekatmu. Mungkin kau harus mencari tahu itu,” jawab gadis itu.
            “Apa maksudnya?” tanyaku sekali lagi.
            “Maaf, mungkin kepribadianmu harus berubah mulai saat ini, kau akan menghadapi cobaan. Akan tetapi kau pasti menang,” ucap gadis itu.
            Lalu cahaya itu semakin terang, terang sekali seperti membutakan mataku.
            Aku terbangun, dan sedang terduduk di bangku istirahat yang disiapkan mall tersebut.
            ‘Hah? Mimpikah?’ batinku.
            “Khhh, kepalaku!” teriakku kesakitan.
            “Huuh, Kak? Kaaak?!” teriak adikku.
            Pandanganku mulai buyar, dan aku tidak sadarkan diri.
           
            Aku terbangun di sebuah kamar rumah sakit, disampingku ada adikku yang menjaga diriku. Aku tidak ingat apa yang terjadi, bahkan aku sekarang tidak ingat mengapa aku di sini.
            Saat aku terbangun aku menanyakan semua kepada adikku, akan tetapi adikku hanya menjawab kalau diriku hanya kelelahan saat mencari barang yang ingin aku cari. Aku menanyakan barang macam apa itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
            Keesokan harinya orang tuaku datang, setelah selesai dengan pengecekan medis, aku langsung diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Orang tuaku tinggal di kota lain di Negara ini, di saat mendengar diriku jatuh dan masuk rumah sakit mereka langsung terbang menuju ke rumah sakit ini.
            Di saat menuju ke rumahku, aku merasakan perasaan tidak enak.
            ‘Perasaan ini, sepertinya aku pernah merasakannya,’ batinku.
            Aku merasa seperti mobil yang aku naiki melambat, dan sepertinya aku merasa dapat melihat apa yang akan terjadi nantinya.
            ‘Di depan jalur kereta tanpa palang kah?’ batinku.
            Aku melihat sebuah mobil tanki minyak berhenti di tengah rel, dan tertabrak sebuah kereta yang menyebabkan ledakan besar. Kereta itu juga lepas dari relnya dan menabrak rumah di sekitarnya, salah satu gerbong kereta tersebut terlepas dan menghantam mobil yang sedang kami naiki.
            Aku tersadar kembali. Tubuhku berkeringat, sangat berkeringat.
            ‘Mimpi? Mimpikah?’ batinku.
            Mobil tanki pembawa minyak baru saja melewati mobil kami.
            “Mobil itu,” kataku.
            “Ada apa kak?” Tanya adikku.
            “Pa, tolong berhenti sebentar,” pintaku.
            “Ada apa anakku?” Tanya Ayahku.
            “Papa ingin melihat peristiwa besar tidak?” tanyaku lagi.
            “Hah?” ucap Ayahku bingung.
            Ibuku juga bingung, akan tetapi mereka mengiyakan dan berhenti 25 meter sebelum kami melewati perlintasan kereta.
            “Sepertinya kita akan melewati jalan lain nanti. Tidak masalah bukan Pa?” tanyaku.
            “Iya, tidak apa-apa, tapi sebenarnya ada apa Azel?” jawab Ayahku sambil berbalik bertanya.
            “Mungkin sifat anehnya muncul lagi Pa,” cetus adikku.
             Tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup keras, benar-benar keras sekali. Aku dapat merasakan getaran yang dihasilkan ledakan itu. karena kereta yang lewat juga kereta barang pembawa bahan bakar.
            “Ledakan apa itu?” tanya Ibuku.
            “Kenapa tidak kita cek saja?” ucapku.
            Ayahku menancapkan gasnya menuju sumber ledakan.
            Dari kejauhan kami melihat asap dan api yang mengepul tinggi di udara, kami berhenti cukup jauh dari perlintasan kereta untuk mencari aman.
            Orang tuaku dan adikku cukup shock melihat kejadian itu. Dan entah mengapa aku merasakan kepuasan sendiri.
            ‘Aku mengetahui hal ini akan terjadi, tapi mengapa aku tidak mencegahnya?’ batinku.
            “Ada apa ini?” tanya adikku.
            “Kecelakaan antara truk pembawa tanki minyak dan juga kereta pembawa bahan bakar. Bukankah itu sudah jelas?” jawabku dengan tenang.
            “Bagaimana kau bisa tahu kalau kereta itu pembawa bahan bakar? Aku tidak melihat gerbong yang membawa bahan bakar itu,” ucap adikku.
            “Entahlah, itu analisis dari ledakan yang aku lihat seperti ini, dan sebaiknya kita harus cepat-cepat pergi,” ucapku.
            Ayahku mengiyakan ku, dia langsung memutar arah kendaraannya dan pergi mencari jalan lain menuju rumahku.
            Kejadian hari ini seperti sebuah mimpi, atau tepatnya seperti déjà vu, tapi aku juga tidak yakin dengan kejadian hari ini. Mungkin saja ini kebetulan, atau kenyataannya aku mendapatkan kekuatan aneh ini? Entahlah yang pasti aku benar-benar menikmati hal ini.
            Keesokan harinya aku bermimpi, bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis itu sangat familiar, akan tetapi aku tidak mengingat siapa namanya, bahkan setelah aku bangun dari mimpi itu aku lupa bagaimana bentuk wajahnya, yang aku ingat hanya rambutnya saja. Ya rambut pirangnya yang mempesona.
            Tiba-tiba perasaan aneh itu muncul lagi. Oh ya kemarin kami sampai di rumah pada pukul 8 malam, orang tuaku juga memutuskan untuk tinggal bersama kami selama 1 minggu untuk memastikan kami baik-baik saja, mengingat liburanku hanya tinggal sebentar lagi jadi aku rasa itu tidak masalah.
            “Kak, makanannya sudah siap!” teriak adikku memanggil diriku.
            Aku mengusap wajahku.
            “Semakin lama aku merasa mimpi itu benar-benar membuatku menjadi gila,” cetusku sendirinya.
            Aku mencuci wajahku, lalu turun ke bawah untuk sarapan. Setelah itu aku menuju taman yang berada di sekitar rumahku. Rumah kami cukup besar, dan kami memiliki taman yang berada tepat sebelum gerbang masuk menuju rumah kami. Aku sering bermain dengan seorang gadis waktu aku kecil.
            “Oh iya, gadis masa kecil itu,” kataku sambil mengingat kembali wajahnya.
            Aku langsung berlari mencari adikku, dan bertanya tentang gadis yang bermain saat diriku masih kecil.
            “Iriya, apa kau tahu gadis yang pernah bermain denganku waktu kecil?” tanyaku.
            “Haa?” ucapnya singkat bingung.
            “Coba ku ingat, waktu kecil bahkan kau tidak punya teman sama sekali, jadi aku tidak yakin tentang itu,” kata adikku sambil berusaha mengingat masa kecilku.
            “Masa?” ucapku tidak percaya.
            Adikku langsung membuang wajahnya.
            “Dan seingatku, kau hanya bermain denganku waktu itu,” ucap adikku lalu pergi.
            ‘Perasaan di saat umurku 8 tahun aku memiliki banyak teman, apa hanya teman imajinasiku saja ya?’ batinku.
            “Ah sudahlah, nanti juga ingat sendiri,” cetusku.
            Aku berjalan menuju keluar rumah, untuk menuju ke taman. Dari kejauhan aku melihat anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Dia menggunakan baju yang sangat aneh, tapi sangat cocok dengan dirinya. Baju itu membuat dirinya terlihat sangat manis, dan lucu. Rambutnya pirang dan bermata biru muda. Anak kecil itu mengingatkan diriku tentang masa kecilku, akan tetapi dia sangat berbeda, rambutnya juga slide pony tail.
            “Huh, ngomong-ngomong apa karena kemampuanku ini aku sekarang dapat melihat masa lalu ya? Atau anak kecil itu benar-benar anak manusia yang nyata?” cetusku bingung.
            Tanpa sadar kakiku melangkah untuk mendekati anak kecil tersebut.
            “Hallo adik keci, sedang apa kamu disini?” Tanya diriku kepada anak itu.
            Anak itu hanya terdiam.
            Tiba-tiba adikku muncul.
            “Huuh, kau benar-benar pedophile ya membawa anak kecil ke taman yang luas ini. Dia masih kecil kak,” ejek adikku sambil menghampiri diriku.
            “Apa maksudmu? Aku juga tidak tahu dia masuk dari mana,” balasku.
            “Ha?” adikku bingung dengan perkataanku.
            “Tu-tunggu, kau bisa melihat anak ini?” tanyaku.
            “Tentu, aku kan punya mata,” jawab adikku sambil dengan ekspresi marah.
            “Bukan, maksudku. Aku kira anak ini hanya khayalanku saja. Soalnya setelah kejadian itu aku merasakan hal-hal aneh terjadi di sekitarku,” ucapku mencoba menjelaskan keadaannya.
            “Kejadian yang kemarin kah? Lalu dia anak siapa? Apa anak korban kecelakaan itu?” tanya adikku.
            “Mana mungkin,” jawabku bingung.
            Tiba-tiba, anak kecil itu memeluk diriku sambil berkata, “Papa!”
            “Ha?” Aku terkejut, begitu pula dengan adikku.
            Anak itu menangis sambil meneriakan “Papa” terus kepada diriku.
            Adikku yang melihat kejadian itu juga sedikit terharu, dia mengeluskan tangannya ke kepala anak itu.
            Aku membawa anak kecil itu ke rumah.
            Disaat kami berada di ruang tamu.
            Anak itu bahkan tidak melepaskan pelukannya, dia memeluk erat diriku seakan tidak mau melepas diriku. Sepertinya anak ini benar-benar rindu akan sesuatu yang membuatnya tidak ingin lepas dari itu.
            Orang tuaku datang, dan heran dengan keadaan ini. Dia bertanya kepadaku tentang siapa anak itu sebenarnya, aku hanya menggelengkan kepala. Tapi adikku menjelaskan bahwa anak ini memanggil diriku sebagai ayahnya.
            Ayahku heran, tapi dia sepertinya senang.
            “Pa, kenapa Papa terlihat senang?” tanyaku.
            “Ya, sepertinya keluarga ini akan semakin ramai dengan kehadiran anak itu, dan sepertinya kau terlihat senang Azel,” ucap Ayahku.
            “Haa? Kita mengadopsi anak ini kah? Dan mana mungkin aku terlihat senang, anak ini akan mengganggu kehidupanku saja nantinya,” cetusku tanpa pikir panjang.
            Dalam hatiku, aku benar-benar senang dengan kehadiran anak ini, akan tetapi hati dengan mulutku berkata lain.
            Anak itu melihatku, dia terlihat sedih.
            “Jadi, kau ingin meninggalkannya di panti asuhan Azel?” tanya Ibuku.
            Tiba-tiba ekspresi wajah adikku berubah drastis.
            Hening seketika. Anak itu terus memelukku sambil berkata “Papa” secara terus menerus.
            Aku mengelus kepala anak itu, “Mana mungkin juga aku meninggalkan anakku sendiri di panti asuhan,” cetusku tanpa sadar.
            “Kalau begitu bagaimana kita yang merawat anak ini kakak,” ucap adikku.
            Wajahnya kembali riang.
            “Eh?” kataku bingung.
            “Tapi sebelum itu, mungkin ada baiknya tes DNA kepada anak ini. Karena anak ini selalu memanggilmu papa bukan?” Ayahku berencana untuk melakukan tes DNA kepada anak ini, untuk mengetahui mengapa anak ini memanggilku seperti itu.
            “Mungkin saja Ayahnya anak ini mirip denganku. Maka dari itu dia memanggilku papa,” ucapku.
            “Sudah tidak apa-apa, lagian tes DNA tidak terlalu sakit,” kata adikku, lalu pergi.
            “Kau mau kemana?” tanyaku.
            “Berkemas, kita mau ke RS bukan?” jawab adikku dengan santainya.
            Aku heran dengan tingkah lakunya hari ini, dia tidak khawatir dengan tes DNA yang akan dilakukan anak ini.
            Pada saat itu juga kami berangkat menuju rumah sakit.
            Anak ini tertidur dipelukanku, aku mengusap air matanya yang dari tadi menangis.
            Aku menghela nafas, “Anak ini datang dari mana ya?”
            “Jangan kau pikirkan, mungkin saja anak itu datang dari masa depan, hahahaha,” cetus adikku tanpa basa-basi.
            “Masa depan dengkulmu,” ejekku.
            Setelah sampai di rumah sakit yang cukup ternama, dan bertekonologi tinggi. Kami langsung melakukan tes DNA kepada anak tersebut. Pihak rumah sakit juga bilang hasil dapat diambil 10 – 12 hari ke depan, atau pihak rumah sakit akan menelpon kami jika hasil tes sudah berhasil. Entah mengapa ide ini sangat aneh menurut diriku. Lagian buat apa tes ini aku lakukan. Dan terlebih lagi, mana mungkin juga dia anakku. Akan tetapi aku tetap masih melakukan tes tersebut.
            “Berarti minggu depan hasilnya sudah keluar yah,” ucap adikku.
            “Iya, lagian mengapa hanya aku yang di tes? Dan mengapa aku juga melakukan tes itu?” tanyaku.
            “Kan anak itu hanya memanggil papa kepadamu saja,” jawab Ayahku.
            “Karena alasan itukah? Aneh sekali,” kataku dengan wajah murung.
            “Lagian tes itu tidak sakit sama sekali, jangan banyak mengeluh lah,” ucap adikku lalu pergi menuju parkiran.
            “Memang tidak sakit, tapi membuang waktu liburanku yang sangat berharga ini,” kataku dengan wajah muram sambil mengejar adikku.
            Lalu kami kembali menuju rumah kami.
            Setelah kehadiran anak itu, Orang tuaku berencana untuk menginap lebih lama di rumah ini sampai hasilnya keluar. Meski aku berkata akan memberi tahu hasil itu jika sudah keluar nantinya, akan tetapi mereka tetap mengelak, dan tetap berencana untuk menginap. Yah itu tidak masalah sih, akan tetapi liburanku tidak akan tenang jika ada orang tuaku.
            Apalagi anak ini selalu bersamaku di saat kedatangannya. Dan sepertinya orang tuaku benar-benar ingin tahu hasil tes tersebut.
            Aku mengecek ponselku.
            “27 Agustus kah? Tinggal 1 minggu 5 hari lagi liburanku berakhir, membosankan,” celotehku.
            ‘Kenapa kejadian beruntun ini terjadi di kota kelahiranku yah?’ batinku.
            Aku memejamkan mataku lalu terlarut dalam tidurku.