Chapter
1
Memory
Namaku
Azazel Hurricane, umur 18 tahun. Aku memiliki satu saudara perempuan bernama
Iriya Hurricane, dia hanya berbeda 3 tahun dariku, rambutnya pirang, dan warna
matanya biru muda sama seperti Ibuku, akan tetapi karena dia cukup pintar dia
mengikuti akselerasi dan sekarang dia satu universitas denganku.
Aku
kuliah di universitas yang berada di tempat kelahiranku. Sebenarnya orang tuaku
sangat keberatan dengan keputusanku, karena mereka menginginkanku masuk ke
universitas yang lebih baik dan bagus kualitasnya dari tempat kuliah ku saat
ini. Aku juga tidak memiliki alasan yang kuat mengapa aku memilih pindah ke tempat
ini.
Hanya
saja, sekarang ini alasan aku pindah ke tempat ini karena seseorang. Ya
seseorang yang aku lupakan. Seseorang yang selalu mengganggu mimpiku. Entah
siapa dia, akan tetapi semakin lama aku tinggal di sini, semakin aku merasa
melupakan alasanku tersebut.
Aku
pindah satu bulan sebelum pembukaan penerimaan mahasiswa baru, dan sekarang aku
masih memiliki waktu liburan selama 2 minggu lagi sebelum masuk universitas.
Aku menggunakan waktuku itu untuk berbelanja elektronik untuk melengkapi
atribut rumahku saat ini. Sebenarnya di rumahku ini semua fasilitas sudah
tersedia, dan masih terawat dengan baik. Akan tetapi aku merasa banyak sekali
kekurangan.
Hari
ini, aku dan adikku pergi ke sebuah mall yang cukup besar di kota ini. Meski
cukup besar, tapi sangat sulit untuk membeli perlengkapan yang aku butuhkan.
Adikku juga sering mengeluh kepadaku, karena dia menyuruh untuk membeli via
online saja agar tidak perlu pergi ke tempat yang membosankan ini.
Ya
memang adikku cukup manis dan cantik, dia sangat pandai dan banyak yang
menyukainya. Akan tetapi dia memiliki sifat egois dan tidak peduli kepada orang
lain. Bahkan dia tidak peduli kepada sekitarnya. Akan tetapi dia dapat
menghafal nama dan wajah dengan baik, meski sudah 10 tahun lamanya. Dan
sebenarnya dia peduli, akan tetapi dia selalu berakting tidak peduli kepada
sekitar.
Tidak
seperti adikku, jika adikku tidak peduli terhadap orang lain, lainhalnya dengan
diriku. Aku cukup peduli kepada orang lain, akan tetapi hanya jika orang lain
itu peduli terhadap diriku. Tapi akhir-akhir ini sepertinya penyakit egois dan
tidak kepedulian dari adikku menular kepadaku. Entahlah, aku hanya hidup
berdasarkan kemauanku saja.
Dalam
perjalanan menuju mall tersebut, entah aku merasa seperti ada yang mengganjal
hatiku. Aku merasa sangat gelisah, akan tetapi perasaan ini sangat aneh. Apa
akan terjadi sesuatu? Atau akan terjadi bencana besar?
Tidak
beselang lama kami sampai di sebuah mall, ternyata mall ini cukup besar dan
fasilitasnya juga sangat memadai. Meski begitu, benar saja kali ini aku tidak
mendapatkan hal yang aku cari.
“Bagaimana
kita istirahat dulu Iriya?” tanyaku kepada adikku.
“Haa,
aku malah inginnya langsung pulang saja,” jawabnya dengan santai.
Tiba-tiba
aku melihat seperti ada seorang gadis yang berada dimimpiku.
Saat
aku melihatnya aku benar-benar terkejut, dan tidak dapat memalingkan wajahku.
Aku tidak dapat melihat wajahnya, hanya aku dapat mengenali rambutnya saja.
Wanita
itu berambut pirang, dan kulitnya benar-benar putih. Akan tetapi tiba-tiba
kepalaku menjadi sangat sakit.
“Kkhh-
ada apa ini?” celotehku sendirinya.
Aku
menoleh ke arah adikku.
‘Perasaanku atau aku merasa dunia ini
seperti terhenti?’ batinku.
Aku
melihat adikku hanya berdiri saja, bahkan tidak melakukan gerakan apapun. Saat
aku menoleh ke arah sekitar semua orang juga terhenti.
Dari
kejauhan aku mendengar suara sama-samar, “Apa
kau mengingat diriku?” tanya suara samar-samar tersebut.
Tiba-tiba
aku merasa seperti di dunia mimpi. Dimana seluruh warna dimensi hanyalah hitam
putih.
‘Di mana aku saat ini?’ batinku sambil
meremat kepalaku karena menahan sakit.
Aku
melihat cahaya putih yang sangat terang menyilaukan mataku. Dan muncul sosok
gadis itu, akan tetapi karena cahaya itu aku tidak dapat melihat jelas gadis
itu.
“Siapa
kau?” tanyaku.
“Siapa
aku? Aku adalah orang dekatmu. Mungkin kau harus mencari tahu itu,” jawab gadis
itu.
“Apa
maksudnya?” tanyaku sekali lagi.
“Maaf,
mungkin kepribadianmu harus berubah mulai saat ini, kau akan menghadapi cobaan.
Akan tetapi kau pasti menang,” ucap gadis itu.
Lalu
cahaya itu semakin terang, terang sekali seperti membutakan mataku.
Aku
terbangun, dan sedang terduduk di bangku istirahat yang disiapkan mall
tersebut.
‘Hah? Mimpikah?’
batinku.
“Khhh,
kepalaku!” teriakku kesakitan.
“Huuh,
Kak? Kaaak?!” teriak adikku.
Pandanganku
mulai buyar, dan aku tidak sadarkan diri.
Aku
terbangun di sebuah kamar rumah sakit, disampingku ada adikku yang menjaga
diriku. Aku tidak ingat apa yang terjadi, bahkan aku sekarang tidak ingat
mengapa aku di sini.
Saat
aku terbangun aku menanyakan semua kepada adikku, akan tetapi adikku hanya
menjawab kalau diriku hanya kelelahan saat mencari barang yang ingin aku cari.
Aku menanyakan barang macam apa itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
Keesokan
harinya orang tuaku datang, setelah selesai dengan pengecekan medis, aku
langsung diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Orang tuaku tinggal di kota lain
di Negara ini, di saat mendengar diriku jatuh dan masuk rumah sakit mereka
langsung terbang menuju ke rumah sakit ini.
Di saat
menuju ke rumahku, aku merasakan perasaan tidak enak.
‘Perasaan ini, sepertinya aku pernah merasakannya,’
batinku.
Aku
merasa seperti mobil yang aku naiki melambat, dan sepertinya aku merasa dapat
melihat apa yang akan terjadi nantinya.
‘Di depan jalur kereta tanpa palang kah?’
batinku.
Aku
melihat sebuah mobil tanki minyak berhenti di tengah rel, dan tertabrak sebuah
kereta yang menyebabkan ledakan besar. Kereta itu juga lepas dari relnya dan
menabrak rumah di sekitarnya, salah satu gerbong kereta tersebut terlepas dan
menghantam mobil yang sedang kami naiki.
Aku
tersadar kembali. Tubuhku berkeringat, sangat berkeringat.
‘Mimpi? Mimpikah?’ batinku.
Mobil
tanki pembawa minyak baru saja melewati mobil kami.
“Mobil
itu,” kataku.
“Ada
apa kak?” Tanya adikku.
“Pa,
tolong berhenti sebentar,” pintaku.
“Ada
apa anakku?” Tanya Ayahku.
“Papa
ingin melihat peristiwa besar tidak?” tanyaku lagi.
“Hah?”
ucap Ayahku bingung.
Ibuku
juga bingung, akan tetapi mereka mengiyakan dan berhenti 25 meter sebelum kami
melewati perlintasan kereta.
“Sepertinya
kita akan melewati jalan lain nanti. Tidak masalah bukan Pa?” tanyaku.
“Iya,
tidak apa-apa, tapi sebenarnya ada apa Azel?” jawab Ayahku sambil berbalik
bertanya.
“Mungkin
sifat anehnya muncul lagi Pa,” cetus adikku.
Tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup keras,
benar-benar keras sekali. Aku dapat merasakan getaran yang dihasilkan ledakan
itu. karena kereta yang lewat juga kereta barang pembawa bahan bakar.
“Ledakan
apa itu?” tanya Ibuku.
“Kenapa
tidak kita cek saja?” ucapku.
Ayahku
menancapkan gasnya menuju sumber ledakan.
Dari
kejauhan kami melihat asap dan api yang mengepul tinggi di udara, kami berhenti
cukup jauh dari perlintasan kereta untuk mencari aman.
Orang
tuaku dan adikku cukup shock melihat kejadian itu. Dan entah mengapa aku
merasakan kepuasan sendiri.
‘Aku mengetahui hal ini akan terjadi, tapi
mengapa aku tidak mencegahnya?’ batinku.
“Ada
apa ini?” tanya adikku.
“Kecelakaan
antara truk pembawa tanki minyak dan juga kereta pembawa bahan bakar. Bukankah
itu sudah jelas?” jawabku dengan tenang.
“Bagaimana
kau bisa tahu kalau kereta itu pembawa bahan bakar? Aku tidak melihat gerbong
yang membawa bahan bakar itu,” ucap adikku.
“Entahlah,
itu analisis dari ledakan yang aku lihat seperti ini, dan sebaiknya kita harus
cepat-cepat pergi,” ucapku.
Ayahku
mengiyakan ku, dia langsung memutar arah kendaraannya dan pergi mencari jalan
lain menuju rumahku.
Kejadian
hari ini seperti sebuah mimpi, atau tepatnya seperti déjà vu, tapi aku juga
tidak yakin dengan kejadian hari ini. Mungkin saja ini kebetulan, atau
kenyataannya aku mendapatkan kekuatan aneh ini? Entahlah yang pasti aku
benar-benar menikmati hal ini.
Keesokan
harinya aku bermimpi, bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis itu sangat familiar,
akan tetapi aku tidak mengingat siapa namanya, bahkan setelah aku bangun dari
mimpi itu aku lupa bagaimana bentuk wajahnya, yang aku ingat hanya rambutnya
saja. Ya rambut pirangnya yang mempesona.
Tiba-tiba
perasaan aneh itu muncul lagi. Oh ya kemarin kami sampai di rumah pada pukul 8
malam, orang tuaku juga memutuskan untuk tinggal bersama kami selama 1 minggu
untuk memastikan kami baik-baik saja, mengingat liburanku hanya tinggal
sebentar lagi jadi aku rasa itu tidak masalah.
“Kak,
makanannya sudah siap!” teriak adikku memanggil diriku.
Aku
mengusap wajahku.
“Semakin
lama aku merasa mimpi itu benar-benar membuatku menjadi gila,” cetusku
sendirinya.
Aku
mencuci wajahku, lalu turun ke bawah untuk sarapan. Setelah itu aku menuju
taman yang berada di sekitar rumahku. Rumah kami cukup besar, dan kami memiliki
taman yang berada tepat sebelum gerbang masuk menuju rumah kami. Aku sering
bermain dengan seorang gadis waktu aku kecil.
“Oh
iya, gadis masa kecil itu,” kataku sambil mengingat kembali wajahnya.
Aku
langsung berlari mencari adikku, dan bertanya tentang gadis yang bermain saat
diriku masih kecil.
“Iriya,
apa kau tahu gadis yang pernah bermain denganku waktu kecil?” tanyaku.
“Haa?”
ucapnya singkat bingung.
“Coba
ku ingat, waktu kecil bahkan kau tidak punya teman sama sekali, jadi aku tidak
yakin tentang itu,” kata adikku sambil berusaha mengingat masa kecilku.
“Masa?”
ucapku tidak percaya.
Adikku
langsung membuang wajahnya.
“Dan
seingatku, kau hanya bermain denganku waktu itu,” ucap adikku lalu pergi.
‘Perasaan di saat umurku 8 tahun aku
memiliki banyak teman, apa hanya teman imajinasiku saja ya?’ batinku.
“Ah
sudahlah, nanti juga ingat sendiri,” cetusku.
Aku
berjalan menuju keluar rumah, untuk menuju ke taman. Dari kejauhan aku melihat
anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Dia menggunakan baju yang sangat aneh, tapi
sangat cocok dengan dirinya. Baju itu membuat dirinya terlihat sangat manis,
dan lucu. Rambutnya pirang dan bermata biru muda. Anak kecil itu mengingatkan
diriku tentang masa kecilku, akan tetapi dia sangat berbeda, rambutnya juga slide pony tail.
“Huh,
ngomong-ngomong apa karena kemampuanku ini aku sekarang dapat melihat masa lalu
ya? Atau anak kecil itu benar-benar anak manusia yang nyata?” cetusku bingung.
Tanpa
sadar kakiku melangkah untuk mendekati anak kecil tersebut.
“Hallo
adik keci, sedang apa kamu disini?” Tanya diriku kepada anak itu.
Anak
itu hanya terdiam.
Tiba-tiba
adikku muncul.
“Huuh,
kau benar-benar pedophile ya membawa anak kecil ke taman yang luas ini. Dia
masih kecil kak,” ejek adikku sambil menghampiri diriku.
“Apa
maksudmu? Aku juga tidak tahu dia masuk dari mana,” balasku.
“Ha?”
adikku bingung dengan perkataanku.
“Tu-tunggu,
kau bisa melihat anak ini?” tanyaku.
“Tentu,
aku kan punya mata,” jawab adikku sambil dengan ekspresi marah.
“Bukan,
maksudku. Aku kira anak ini hanya khayalanku saja. Soalnya setelah kejadian itu
aku merasakan hal-hal aneh terjadi di sekitarku,” ucapku mencoba menjelaskan
keadaannya.
“Kejadian
yang kemarin kah? Lalu dia anak siapa? Apa anak korban kecelakaan itu?” tanya
adikku.
“Mana
mungkin,” jawabku bingung.
Tiba-tiba,
anak kecil itu memeluk diriku sambil berkata, “Papa!”
“Ha?”
Aku terkejut, begitu pula dengan adikku.
Anak
itu menangis sambil meneriakan “Papa” terus kepada diriku.
Adikku
yang melihat kejadian itu juga sedikit terharu, dia mengeluskan tangannya ke kepala
anak itu.
Aku
membawa anak kecil itu ke rumah.
Disaat
kami berada di ruang tamu.
Anak
itu bahkan tidak melepaskan pelukannya, dia memeluk erat diriku seakan tidak
mau melepas diriku. Sepertinya anak ini benar-benar rindu akan sesuatu yang
membuatnya tidak ingin lepas dari itu.
Orang
tuaku datang, dan heran dengan keadaan ini. Dia bertanya kepadaku tentang siapa
anak itu sebenarnya, aku hanya menggelengkan kepala. Tapi adikku menjelaskan
bahwa anak ini memanggil diriku sebagai ayahnya.
Ayahku
heran, tapi dia sepertinya senang.
“Pa,
kenapa Papa terlihat senang?” tanyaku.
“Ya,
sepertinya keluarga ini akan semakin ramai dengan kehadiran anak itu, dan
sepertinya kau terlihat senang Azel,” ucap Ayahku.
“Haa?
Kita mengadopsi anak ini kah? Dan mana mungkin aku terlihat senang, anak ini
akan mengganggu kehidupanku saja nantinya,” cetusku tanpa pikir panjang.
Dalam
hatiku, aku benar-benar senang dengan kehadiran anak ini, akan tetapi hati
dengan mulutku berkata lain.
Anak
itu melihatku, dia terlihat sedih.
“Jadi,
kau ingin meninggalkannya di panti asuhan Azel?” tanya Ibuku.
Tiba-tiba
ekspresi wajah adikku berubah drastis.
Hening
seketika. Anak itu terus memelukku sambil berkata “Papa” secara terus menerus.
Aku
mengelus kepala anak itu, “Mana mungkin juga aku meninggalkan anakku sendiri di
panti asuhan,” cetusku tanpa sadar.
“Kalau
begitu bagaimana kita yang merawat anak ini kakak,” ucap adikku.
Wajahnya
kembali riang.
“Eh?”
kataku bingung.
“Tapi
sebelum itu, mungkin ada baiknya tes DNA kepada anak ini. Karena anak ini
selalu memanggilmu papa bukan?” Ayahku berencana untuk melakukan tes DNA kepada
anak ini, untuk mengetahui mengapa anak ini memanggilku seperti itu.
“Mungkin
saja Ayahnya anak ini mirip denganku. Maka dari itu dia memanggilku papa,”
ucapku.
“Sudah
tidak apa-apa, lagian tes DNA tidak terlalu sakit,” kata adikku, lalu pergi.
“Kau
mau kemana?” tanyaku.
“Berkemas,
kita mau ke RS bukan?” jawab adikku dengan santainya.
Aku
heran dengan tingkah lakunya hari ini, dia tidak khawatir dengan tes DNA yang
akan dilakukan anak ini.
Pada
saat itu juga kami berangkat menuju rumah sakit.
Anak
ini tertidur dipelukanku, aku mengusap air matanya yang dari tadi menangis.
Aku
menghela nafas, “Anak ini datang dari mana ya?”
“Jangan
kau pikirkan, mungkin saja anak itu datang dari masa depan, hahahaha,” cetus
adikku tanpa basa-basi.
“Masa
depan dengkulmu,” ejekku.
Setelah
sampai di rumah sakit yang cukup ternama, dan bertekonologi tinggi. Kami
langsung melakukan tes DNA kepada anak tersebut. Pihak rumah sakit juga bilang
hasil dapat diambil 10 – 12 hari ke depan, atau pihak rumah sakit akan menelpon
kami jika hasil tes sudah berhasil. Entah mengapa ide ini sangat aneh menurut
diriku. Lagian buat apa tes ini aku lakukan. Dan terlebih lagi, mana mungkin
juga dia anakku. Akan tetapi aku tetap masih melakukan tes tersebut.
“Berarti
minggu depan hasilnya sudah keluar yah,” ucap adikku.
“Iya,
lagian mengapa hanya aku yang di tes? Dan mengapa aku juga melakukan tes itu?”
tanyaku.
“Kan
anak itu hanya memanggil papa kepadamu saja,” jawab Ayahku.
“Karena
alasan itukah? Aneh sekali,” kataku dengan wajah murung.
“Lagian
tes itu tidak sakit sama sekali, jangan banyak mengeluh lah,” ucap adikku lalu
pergi menuju parkiran.
“Memang
tidak sakit, tapi membuang waktu liburanku yang sangat berharga ini,” kataku
dengan wajah muram sambil mengejar adikku.
Lalu
kami kembali menuju rumah kami.
Setelah
kehadiran anak itu, Orang tuaku berencana untuk menginap lebih lama di rumah
ini sampai hasilnya keluar. Meski aku berkata akan memberi tahu hasil itu jika
sudah keluar nantinya, akan tetapi mereka tetap mengelak, dan tetap berencana
untuk menginap. Yah itu tidak masalah sih, akan tetapi liburanku tidak akan
tenang jika ada orang tuaku.
Apalagi
anak ini selalu bersamaku di saat kedatangannya. Dan sepertinya orang tuaku
benar-benar ingin tahu hasil tes tersebut.
Aku
mengecek ponselku.
“27
Agustus kah? Tinggal 1 minggu 5 hari lagi liburanku berakhir, membosankan,”
celotehku.
‘Kenapa kejadian beruntun ini terjadi di
kota kelahiranku yah?’ batinku.
Aku
memejamkan mataku lalu terlarut dalam tidurku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar